Sunday, September 28, 2008

Prosesi Pernikahan Adat Gorontalo

Gorontalo merupakan salah satu provinsi di wilayah Republik Indonesia yang memanjang dari Timur ke Barat dl Bagian Utara Pulau Sulawesi. Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi kemudian di sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, serta Teluk Tomini di sebelah Selatan. Penduduk Gorontalo hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Adat istiadatnya sangat dipengaruhi ajaran dan kaidah Islam. Oleh karenanya masyarakat Gorontalo memegang teguh semboyan adat yaitu, 'Adati hula hula Sareati - Sareati hula hula to Kitabullah' yang artinya, Adat Bersendikan Syara, Syara Bersendikan Kitabullah.

Pengaruh Islam menjadi hukum tidak tertulis di Gorontalo yang turut mengatur segala kehidupan masyarakatnya dengan ajaran yang Bersendikan Islam. Termasuk adat pernikahan di Gorontalo yang sangat bernuansa Islami. Prosesi pernikahan dilaksanakan menurut upacara adat yang sesuai tahapan atau Lenggota Lo Nikah.

Tahapan pertama disebut Mopoloduwo Rahasia, yaitu dimana orang tua dari pria mendatangi kediaman orang tua sang wanita untuk memperoleh restu pernikahan anak mereka. Apabila keduanya menyetujui, maka ditentukan waktu untuk melangsungkan Tolobalango atau Peminangan.

Tolobalango adalah peminangan secara resmi yang dihadiri oleh pemangku adat Pembesar Negeri dan keluarga melalui juru bicara pihak keluarga pria (Lundthu Dulango Layio) dan juru bicara utusan keluarga wanita (Lundthu Dulango Walato). Penyampaian maksud peminangan dilantunkan melalui pantun-pantun yang indah.

Dalam Peminangan Adat Gorontalo tidak menyebutkan biaya pernikahan (Tonelo) oleh pihak utusan keluarga calon pengantin pria, namun yang terpenting mengungkapkan Mahar (Maharu) dan penyampaian acara yang akan dilaksanakan selanjutnya.

Pada waktu yang telah disepakati dalam acara Tolobalango maka prosesi selanjutnya adalah Depito Dutu (antar mahar) maupun antar harta yang terdiri dari 1 paket mahar, sebuah paket lengkap kosmetik tradisional Gorontalo dan kosmetik modern, ditambah seperangkat busana pengantin wanita, sirih, dan bermacam buah-buahan dan dilonggato atau bumbu dapur.

Semua hantaran ini dimuat dalam sebuah kendaraan yang didekorasi menyerupai perahu yang disebut Kola-Kola. Arak-arakan hantaran ini dibawa dari rumah Yiladiya (kediaman/rumah raja) calon pengantin pria menuju rumah Yiladiya pengantin wanita diringi dengan gendering adat dan kelompok Tinilo diiringi tabuhan rebana melantunkan lagu tradisional Gorontalo yang sudah turun temurun, yang berisi sanjungan, himbauan dan doa keselamatan dalam hidup berumah tangga dunia dan akhirat.

Pada malam sehari sebelum akad nikah digelar serangkaian acara Mopotilandthu (malam pertunangan). Acara ini diawali dengan Khatam Qur'an, proses ini bermakna bahwa calon mempelai wanita telah menamatkan atau menyelesaikan ngajinya dengan membaca 'Wadhuha' sampai surat Lahab. Dilanjutkan dengan Molapi Saronde yaitu tarian yang dibawakan oleh talon mempelai pria dan ayah atau wali laki-laki.

Tarian ini menggunakan sehelai selendang. Ayah dan calon mempelai pria secara bergantian menarikannya, sedangkan sang calon mempelai wanita memperhatikan dari kejauhan atau dari kamar.

Bagi calon mempelai pria ini merupakan sarana Molile Huali (menengok atau mengintip talon istrinya), dengan tarian ini calon mempelai pria mencuri-curi pandang untuk melihat calonnya. Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana diiringi dengan lagu Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa Arab yang juga merupakan lantunan doa-doa untuk keselamatan.

Lalu sang calon mempelai wanita ditemani pendamping menampilkan tarian tradisional Tidi Daa tau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan keberanian dan keyakinan menghadapi badai yang akan terjadi kelak bila berumah tangga. Usai menarikan Tarian Tidi, calon mempelai wanita duduk kembali ke pelaminan dan talon mempelai pria dan rombongan pemangku adat beserta keluarga kembali ke rumahnya.

Keesokan harinya Pemangku Adat melaksanakan akad nikah, sebagai acara puncak dimana kedua mempelai akan disatukan dalan ikatan pernikahan yang sah menurut Syariat Islam. Dengan cara setengah berjongkok mempelai pria dan penghulu mengikrarkan ijab kabul dan mas kawin yang telah disepakati kedua belah pihak keluarga. Acara ini selanjutnya ditutup dengan doa sebagai tanda syukur atas kelancaran acara penikahan ini.

Penulis : Ryan
Sumber : Travel Club

Lamaran

Upacara Lamaran dalam tradisi perkawinan di Jawa ini untuk mengetahui apakah seorang gadis sudah terikat kepada seorang pria. Perlengkapan yang dibutuhkan dalam upacara Lamaran berupa sejumlah harta berupa pakaian wanita dan sebentuk cincin.

Proses yang melibatkan keluarga pria lebih dahulu menanyakan apakah gadis dari pihak wanita telah dimilki oleh seorang jejaka atau belum. Pertanyaan diajukan kepada orang tua gadis, jika orang tuanya masih hidup maka proses ini disebut legan, tetapi jika orang tua gadis sudah meninggal dan ditujukan pada wali, maka proses ini disebut nakokake.

Jika diterima dengan baik, maka keluarga pria memberikan paningset yakni pemberian sejumlah harta kepada orang tua si gadis sebagai tanda pengikat.

Tedhak Siten

Salah satu tradisi kelahiran yang ada di budaya Jawa adalah Tedhak Sinten. Upacara Tedhak Sinten ini bertujuan memohon keselamatan bagi si bayi dan harapan agar bayi cepat berjalan. Perlengkapan upacaranya adalah sebagai berikut:

- Golongan bangsawan: Nasi kuning, air dan kembang setaman, jadah tujuh warna, kue singkong, jenang baro-baro, nasi gudangan, jenang abang dan putih.
- Golongan rakyat biasa: Nasi tumpeng gudangan, jenang abang dan putih, jenang baro-baro dan jajan pasar.


Upacara ini berkaitan dengan peristiwa turun tanah, yaitu memperkenalkan anak kepada tanah. Thedak sinten diadakan pada waktu siang hari dan dihadiri oleh ibu, ayah, bibi kerabat dan teman terdekat.


Sumber: www.gudeg.net

Panggih

Upacara ini untuk menolak bala dan mohon keselamatan serta media sosialisasi kedua mempelai kepada masyarakat.

Perlengkapan upacara:
- Golongan bangsawan:
Sesaji: kepala kerbau, tumpeng robyong gundul, pisang ayu, sedah ayu, ketan moncowarni, jenang tujuh macam, rujak warna-warni, ampyang warna-warni dan kembang tujuh rupa.
Kenduri: nasi gurih, ambeng, nasi asrep-asrepan, nasi golong tumpeng megono, tumpeng legeh, tumpeng kendit, tumpeng muruping damar, tumpeng gebuli, tumpeng punar, dan dahar werni, tebu, padi dan ingkung.
- Golongan rakyat biasa:
Sesaji: nasi among, jenang-jenangan, nasi golong bulat, nasi punar, pindhang antep, gecok ayam hidup dan kelapa
Kendhuri: nasi gurih, ingkung nasi golong, nasi ambengan dan nasi gudangan.

Pertemuan pengantin yang kemudian biasanya dilanjutkan dengan upacara keramaian dengan mengundang kerabat dan relasi dari kedua belah pihak.

Sumber: www.gudeg.net

Siraman Pengantin

Siraman Pengantin adalah salah satu bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Jawa. Upacara siraman pengantin atau memandikan calon pengantin, dilaksanakan sehari sebelum akad nikah (upacara panggih). Perlengkapan dalam upacara siraman ini, diantaranya, air bersih dari beberapa sumber mata air (tujuh sumber mata air), kembang setaman (bunga kenanga, kantil, melati dan mawar) yang ditaburkan dalam air, sepasang kelapa muda hijau dan alas duduk.

Calon pengantin disirami dengan air perwitasari. Perwita berarti suci, sari berarti bunga. Calon pengantin disirami dengan air suci yang menyatu dengan bunga atau kembang.

Orang yang memandikan pengantin dalam upacara siraman biasanya adalah orang yang sudah berkeluarga atau orang yang dituakan. Setelah selesai dibersihkan, pengantin diguyur dengan air yang khusus ditempatkan dalam klenting (tempat air dari tanah liat) oleh seorang wanita yang paling tua di situ, kemudian klenting tersebut dibanting sampai pecah sambil mengucapkan "wis pecah pamore" (maksudnya calon pengantin sudah cantik).

Mengapa calon pengantin perlu siraman? Perkawinan adalah peristiwa yang suci untuk membangun keluarga selama-lamanya. Oleh karena itu, sebelum perkawinan, calon pengantin perlu bersuci. Suci lahiriah dengan siraman air perwitasari. Secara batiniah ketika siraman, calon pengantin menerima doa, restu, dan nasihat para tetua. Upacara siraman antara pengantin pria dan wanita ada yang dilaksanakan terpisah, tetapi ada yang disatukan.

Sumber: www.gudeg.net

Prosesi Adat Pernikahan Mingkabau


Mempertahankan tradisi adat pernikahan sudah menjadi keharusan masyarakat Minangkabau yang tinggal di Tanah Datar-Lintau, Desa Lubuak Jantan. Balutan nuansa syariat Islam sangat kental membungkusnya.
Adat pernikahan orang Lubuak Jantan menurut pakar adat perkawinan daerah Tanah Datar, Nusye, sangat menjunjung syariat Islam dan kaya dengan filosofi. "Dari warna-warna pakaian dan ornamen digunakan, jumlah untaian (setajuak) janur, sampai pakaian dan makanannya sarat makna Islami," jelasnya.

Pelaminan khas Minang ala Lubuk Jantan ini bertaburkan kain bersulam benang emas. Hitam begitu mendominasi sebagai warna yang mewakili kalangan datuk. Dalam adat pernikahan ini ads acara manyambuik marapulai, yakni prosesi adat yang dilaksanakan ketika mempelai pria (marapulai) datang dari mesjid setelah melakukan akad nikah.

Kebiasaan masyarakat Lubuak Jantan, lanjut Nusy, kerap melangsungkan pernikahan setelah shalat Jum'at. Dan ketika akad berlangsung pun mempelai wanita (anak daro) tidak mendampingi mempelai pria, melainkan menunggu di kediaman anak daro.

Usai akad di mesjid, marapulai dengan diantar orang tuo dan ninik mamak (penghulu) mendatangi anak daro yang telah menanti kedatangan marapulai dengan mempersiapkan upacara adat prosesi manyambuik marapulai. Musik Talempong (sejenis alat musik gamelan) terus dimainkan untuk mengisi jeda atau ketika menuju ke prosesi selanjutnya.

Ketika marapulai dan keluarganya tiba di pintu kediaman anak daro (marapulai alah tibo), langsung disambut dengan Tari Gelombang sebagai tarian penyambut tamu dan petatah petitih (berbalas pantun) antara mintuo orang tua anak daro dan dibalas oleh mintuo orang tua marapulai (ibunda masing-masing mempelai). Inti dari petatah petitih ini adalah keluarga anak daro menerima kadatangan keluarga marapulai. Setalah itu Tari Persembahan yang dilakukan oleh beberapa penari perempuan mengiringi masuknya marapulai.

Marapulai belum bisa bersanding dengan anak daro di pelaminan sebelum mintuo marapulai (mertua mempelai pria) melakukan prosesi adat membasuah kaki, yaitu mintuo marapulai membersihkan kaki marapulai dengan air hingga tidak ada kotoran sedikitpun yang melekat, sebagai perlambang membersihkan kotoran (dosa) masa lalu. Lalu marapulai berjalan di atas kain putih dalam keadaan bersih tidak berbekas, ini menandakan marapulai mendatangi anak daro dalam keadaan suci.

Dalam prosesi adat ini, kedua mempelai bersanding dengan bersimpuh di lantai, tidak seperti pernikahan pads umumnya yang menggunakan kursi pelaminan. Tari Piring pun disuguhkan sebagai bentuk kegembiraan dan untuk menghibur mempelai dan masyarakat yang hadir. Lalu acara dilanjutkan dengan acara makan bajamba.

Terdapat sepasang setajuak yang terikat janur berjumlah 5 dan 6. Bila dijumlah menjadi sebelas, menandakan pengantin berasal dari keluarga bangsawan. Kaki setajuak adalah ketan kuning dan satu lagi berisi sirih, kapur, dan pinang dibungkus saputangan bersulam emas. Juga terdapat sepasang jamba gadang yang ditutup saputangan bersulam emas. Salah satu jamba gadang tersebut berisi ketan kuning, ketan putih, ketam hitam, dan paniaram. Sedangkan yang lain berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.

Dihadapan kedua mempelai ada jamba (hidangan), dulang yang berisi nasi terdiri dari empat warna, ada kuning, putih, hitam, dan di atasnya ditutup dengan warna coklat sebagai pemersatu. Semuanya ini memiliki makna masing-masing.

Menurut Sekjen Masyarakat Peduli Pariwisata Sumatera Barat (MAPPAS), Hj. Nuraini B. Prabdanu, warna putih melambangkan alim ulama atau religius, lalu warna hitam perlambang datuak atau orang mempunyai derajat tinggi, sedangkan warna kuning untuk orang memiliki sifat cendekiawan atau orang yang pandai.

Dibagian samping kiri dan kanan pelaminan di gelar sepra (kain putih) tempat menjamu para undangan. Jamuan berupa kue dan makanan tradisional Minangkabau seperti lamang, tapek kucui, ketan tape, dan kolak pisang (sono) diisikan pada piring-piring kecil. Ada juga cirano yang berisi makanan sebagai persembahan bagi datuk desa lain.

Dalam prosesi ini mempelai tidak saling menyuapi, tetapi masing-masing mempelai mengambil atau memilih jenis nasi yang hendak disuapnya. Apapun yang dipilih akan melambangkan sifat orangnya. Acara ini disudahi dengan acara bajamba atau makan bersama.

Pakaian pernikahan adat Minangkabau biasanya berwarna hitam ditaburi aura keemasan menyelimuti keseluruhan penampilan mempelai dengan sulaman emas pada baju kedua pengantin dan kain songket bertabur emas yang berornamen khas.

Baju kurung panjang dan kain sarung balapak merupakan busana anak daro pada umumnya. Hiasan pada kepala dan asesoris pendukung lainnya berupa belenggek ini terdiri dari 2 tingkat, yang pertama merupakan tanduk dari kain bersulam benang emas yang di atasnya dihiasi dengan tanduk emas atau dikenal dengan tengkuluk ameh.

Pakaian marapulai biasanya adalah 'pakaian kebesaran adat' yang terdiri dari baju gadang basiba, sarawa (celana) guntiang ampek dan Beta atau hiasan kepala dilengkapi dengan serong serta karih (keris).

Sumber: Majalah Travel Club

Thursday, September 25, 2008

Upacara Pra Nikah Adat Surabaya

Upacara

Makna/Perlengkapan

Njondokno – Nelesik

Acara ini dilakukan karena biasanya pada zaman dulu lajang jarang mencari jodohnya sendiri.

Orangtualah yang biasanya akan menentukan jodoh mereka. Para orangtua sejak anaknya masih kecil sudah saling menjodohkan. Kebiasaan ini kerap disebut dengan tradisi “kawin gantung”.

Nelesik biasanya dilaksanakan orangtua pada saat sedang diadakan suatu perayaan atau upacara.

Apabila telah bertemu yang cocok maka orangtua akan langsung menjodohkan dengan anaknya.

Selanjutnya orangtua akan melalukan penelitian lebih lanjut dengan cara mengirimkan utusan.

Ndelok/Nontoni

Acara ini bermaksud untuk mengetahui lebih jauh tentang asal-usul dan kondisi calon pasangan yang telah dipilih. Biasanya akan diadakan sebuah pesta kecil yang dihadiri kedua pihak keluarga untuk saling melihat pasangannya lebih dekat.

Apabila dalam acara ini telah dicapai kesepakatan antar kedua keluarga tersebut maka dapat dilanjutkan dengan acara lamaran pada hari yang telah disepakati

Nakokno/Ngalamar

Orangtua atau wali pengantin pria dating kerumah calon pengantin wanita dengan diantar oleh beberapa sesepuh atau kerabat dekatnya dengan maksud untuk melamar. Apabila lamaran tersebut diterima maka keduanya akan berunding guna mencari hari baik untuk melangsungkan pernikahan kedua anak mereka.

Untuk memilih hari baik ini,selain berdasarkan perhintungan weton (hari kelahiran kedua calon pengantin) juga tidak diperbolehkan jatuh pada hari geblak atau hari meninggalnya orangtua.

Peningsetan

Yaitu acara penyerahan barang-barang yang telah ditata rapi sebagai tanda ikatan kepada calon pengantin wanita. Biasanya penyerahan peningsetan ini dilaksanakan di rumah calon pengantin tanpa upacara tertentu dan ahnya dihadiri oleh sanak keluarga atau tetangga dekat saja.

Isi dari peningsetan adalah pisang ayu, peralatan nginang (kapur, sirih, jambe, tembakau), gula dan kopi, jenang dan wajik, stagen putih, bermacam-macam jarit(kain) panjang, bunga rampai yang terdiri dari tujuh macam bunga, perhiasan atau cincin emas

Malam Manggulan (Midodareni)

Yaitu malam tirakatan, di mana tidak terdengar bunyi gamelan atau atraksi apa pun. Calon pengantin wanita sudah kerik pada bagian kuduk. Belakang telinga dan seluruh mukanya agar bersih dari bulu halus. Dengan ditemani beberapa handai taulan, calon pengantin wanita dibawa ke dalam kamar tetapi para pria tidak diperkenankan hadir di ruangan ini.

Biasanya malam mingguan ini berlangsung sampai larut malam. Calon pengantin wanita biasanya akan mengenakan gaun berwarna biru muda atau merah muda dengan dandanan dan perhiasan sederhana. Sampai sekarang tradisi ini biasanya tidak pernahdilewatkan

Upacara Langkahan

Bila dalam pernikahan tersebut calon pengantin mendahului kakaknya menikah maka harus dilakukan upacara langkahan yang biasanya sekaligus dilakukan pada malam Manggulan, sebelum banyak tamu datang. Acara ini hanya untuk keluarga dekat saja.

Perlengkapan yang harus disediakan adalah pakaian sak pengadeg atau seperangkat pakaian yang dibungkus rapi lalu diserahkan pada sang kakak sambil sungkeman dan mohon maaf serta meminta restu. Tujuannya untuk menghindari hal-hal yang kurang baik akibat melangkahi kakaknya menikah terlebih dahulu.

Prosesi Pernikahan Adat Melayu - Riau


UPACARA

PERLENGKAPAN&MAKNA

Malam Berinai

Tujuan upacara ini dimaksudkan untuk menolak bala dan melindungi pasangan pengantin dari marabahaya, termasuk bahaya yang kasat mata, menaikkan aura dan cahaya pengantin wanita dan memunculkan wibawa pengantin pria.

Berinai yang dimaksud adalah memasang/memoleskan daun inai (daun pacar) yang sudah digiling halus, terutama pada kuku jari tangan dan telapak tangan jari kaki dan telapaknya samapi ke tumit.

Upacara Berandam

Upacara ini lazim dilakukan setelah malam berinai yaitu keesokan harinya. Tujuannya untuk menghapuskan/membersihkan sang calon pengantin dari ‘kotoran’ dunia sehingga hatinya menjadi putih dan suci.

Berandam pada hakikatnya adalah melakukan pencukuran bulu roma pada wajah dan tengkuk calon pengantin wanita sekaligus juga membersihkan mukanya.

Akad Nikah

Biasanya upacara akad nikah ini dilakukan pada malam hari yang mengambil tempat di kediaman calon pengantin wanita.

Sebelum berangkat ke rumah mempelai wanita, pengantin pria terlebih dahulu ditepung tawari(diberi bedak dingin yang dibuat secara tradisional) sebagai lambing hati yang sejuk, oleh keluarga dekat dan kerabat yang dituai atau dihormati, kemudian meminta doa restu drai orangtua agar akad nikahnya dapat berjalan lancar.

Makan Nasi Hadap-Hadapan

Upacara ini dilakukan di depan pelaminan. Hidangan yang disajikan untuk upacara ini dibuat dalam kemasan seindah mungkin. Yang boleh menyantap hidangan ini selain kedua mempelai adalah keluarga terdekat dan orang-orang yang dihormati.

Dalam upacara ini juga biasanya lazim diadakan upacara pembasuhan tangan pengantin laki-laki oleh pengantin wanita sebagai ungkapan pengabdian seorang istri terhadap suaminya.

Menyembah Mertua

Upacara ini dilakukan apabila di siang harinya kedua mempelai telah disandingkan di pelaminan, maka pada malam harinya dilanjutkan dengan acara menyembah pada mertua.

Pengantin laki-laki dan wanita dengan diiringi oleh rombongan kerabat pengantin wanita berkunjung ke rumah orangtua pengantin laki-laki denagn membawa beraneka hidangan tertentu.

Bersiram Kumbo Taman (Mandi Damai)

Upacara mandi damai ini sebagai tanda sebuah ungkapan rasa syukur atas kelancaran keseluruhan rangkaian upacara perkawinan yang telah mempersatukan dua insan menjadi pasangan suani istri yang sah.

Biasanya prosesi adapt ini dilakukan setelah kedua pengantin melangsungkan perkawinan selama tiga hari.

UPACARA PERKAWINAN ADAT ACEH


Tahapan Melamar (Ba Ranub)

Untuk mencarikan jodoh bagi anak lelaki yang sudah dianggap dewasa maka pihak keluarga akan mengirim seorang yang bijak dalam berbicara (disebut theulangke) untuk mengurusi perjodohan ini. Jika theulangke telah mendapatkan gadis yang dimaksud maka terlabih dahulu dia akan meninjau status sang gadis. Jika belum ada yang punya, maka dia akan menyampaikan maksud melamar gadis itu.

Pada hari yang telah di sepakati datanglah rombongan orang2 yang dituakan dari pihak pria ke rumah orang tua gadis dengan membawa sirih sebagai penguat ikatan berikut isinya seperti gambe, pineung reuk, gapu, cengkih, pisang raja, kain atau baju serta penganan khas Aceh. Setelah acara lamaran iini selesai, pihak pria akan mohon pamit untuk pulang dan keluarga pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut.

Tahapan Pertunangan (Jakba Tanda)

Bila lamaran diterima, keluarga pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong haba yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan, termasuk menetapkan berapa besar uang mahar (disebut jeunamee) yang diminta dan beberapa banyak tamu yang akan diundang. Biasanya pada acara ini sekaligus diadakan upacara pertunangan (disebut jakba tanda)

acara ini pihak pria akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh, buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria. Namun bila ikatan ini putus ditengah jalan yang disebabkan oleh pihak pria yang memutuskan maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang. Tetapi kalau penyebabnya adalah pihak wanita maka tanda emas tersebut harus dikembalikan sebesar dua kali lipat.

Persiapan Menjelang Perkawinan

Seminggu menjelang akad nikah, masyarakat aceh secara bergotong royong akan mempersiapkan acara pesta perkawinan. Mereka memulainya dengan membuat tenda serta membawa berbagai perlengkapan atau peralatan yang nantinya dipakai pada saat upacara perkawinan. Adapun calon pengantin wanita sebelumnya akan menjalani ritual perawatan tubuh dan wajah serta melakukan tradisi pingitan. Selam masa persiapan ini pula, sang gadis akan dibimbing mengenai cara hidup berumah tangga serta diingatkan agar tekun mengaji.

Selain itu akan dialksanakan tradisi potong gigi (disebut gohgigu) yang bertujuan untuk meratakan gigi dengancara dikikir. Agar gigi sang calon pengantin terlihat kuat akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi. Setelah itu calon pengantin melanjutkan dengan perawatan luluran dan mandi uap.

Selain tradisi merawat tubuh, calon pengantin wanita akan melakukan upacara kruet andam yaitu mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih lalu dilanjutkan dengan pemakaian daun pacar (disebut bohgaca) yang akan menghiasi kedua tangan calon pengantin. Daun pacar ini akan dipakaikan beberapa kali sampai menghasilkan warna merah yang terlihat alami.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mengadakan pengajian dan khataman AlQuran oleh calon pengantin wanita yang selanjutnya disebut calon dara baro (CBD).Sesudahnya, dengan pakaian khusus, CBD mempersiapkan dirinya untuk melakukan acara siraman (disebut seumano pucok) dan didudukan pad asebuah tikaduk meukasap.

Dalam acara ini akan terlihat beberapa orang ibu akan mengelilingi CBD sambil menari-nari dan membawa syair yang bertujuan untuk memberikan nasihat kepada CBD. Pada saat upacara siraman berlangsung, CBD akan langsung disambut lalu dipangku oleh nye’wanya atau saudara perempuan dari pihak orang tuanya. Kemudian satu persatu anggota keluarga yang dituakan akan memberikan air siraman yang telah diberikan beberapa jenis bunga-bungaan tertentu dan ditempatkan pada meundam atau wadah yang telah dilapisi dengan kain warna berbeda-beda yang disesuaikan dengan silsilah keluarga.

Upacara Akad Nikah dan Antar Linto

Pada hari H yang telah ditentukan, akan dilakukan secara antar linto (mengantar pengantin pria). Namun sebelum berangkat kerumah keluarga CBD, calon pengantin pria yang disebut calon linto baro(CLB) menyempatkan diri untuk terlebih dahulu meminta ijin dan memohon doa restu pada orang tuanya. Setelah itu CLB disertai rombongan pergi untuk melaksanakan akad nikah sambil membawa mas kawin yang diminta dan seperangkat alat solat serta bingkisan yang diperuntukan bagi CDB.

Sementara itu sambil menunggu rombongan CLB tiba hingga acara ijab Kabul selesai dilakukan, CDB hanya diperbolehkan menunggu di kamarnya. Selain itu juga hanya orangtua serta kerabat dekat saja yang akan menerima rombongan CLB. Saat akad nikah berlangsung, ibu dari pengantin pria tidak diperkenankan hadir tetapi dengan berubahnya waktu kebiasaan ini dihilangkan sehingga ibu pengantin pria bisa hadir saat ijab kabul. Keberadaan sang ibu juga diharapkan saat menghadiri acara jamuan besan yang akan diadakan oleh pihak keluarga wanita.

Setelah ijab kabul selesai dilaksanakan, keluarga CLB akan menyerahkan jeunamee yaitu mas kawin berupa sekapur sirih, seperangkat kain adat dan paun yakni uang emas kuno seberat 100 gram. Setelah itu dilakukan acara menjamu besan dan seleunbu linto/dara baro yakin acara suap-suapan di antara kedua pengantin. Makna dari acara ini adalah agar keduanya dapat seiring sejalan ketika menjalani biduk rumah tangga.

Upacara Peusijeuk

Yaitu dengan melakukan upacara tepung tawar, memberi dan menerima restu dengan cara memerciki pengantin dengan air yang keluar dari daun seunikeuk, akar naleung sambo, maneekmano, onseukee pulut, ongaca dan lain sebagainya minimal harus ada tiga yang pakai. Acara ini dilakukan oleh beberapa orang yang dituakan(sesepuh) sekurangnya lima orang.

Tetapi saat ini bagi masyarakat Aceh kebanyakan ada anggapan bahwa acara ini tidak perlu dilakukan lagi karena dikhawatirkan dicap meniru kebudayaan Hindu. Tetapi dikalangan ureungchik (orang yang sudah tua dan sepuh) budaya seperti ini merupakan tata cara adat yang mutlak dilaksanakan dalam upacara perkawinan. Namun kesemuanya tentu akan berpulang lagi kepada pihak keluarga selaku pihak penyelenggara, apakah tradisi seperti ini masih perlu dilestarikan atau tidak kepada generasi seterusnya.

Tata Cara Pernikahan Adat Banten


UPACARA

TATA CARA&PERLENGKAPAN

Ngolotkeun

Upacara ngolotkeun adalah pengiriman utusan dari calon mempelai wanita ke mempelai pria.

Biasanya yang menentukan calon menantu adalah orangtua dari pihak calon mempelai wanita. Maka ditentukan narosan pihak calon pengantin wanita kepada calon pengantin pria sambil menentukan waktu yang disepakati untuk melangsungkan upacara pernikahan.

Seserahan

Merupakan upacara dimana kedua keluarga mempelai memberikan hantaran berupa makanan dan pakaian sebagai bekal dalam melangsungkan kehidupan keluarga.

Seserahan dilaksanakan setelah akad nikah dilangsungkan dengan membawa makanan, pakaian, tebu wulung, seikat padi, siring dan pinang dengan tangkainya. Biasanya upacara ini dilaksanakan malam hari setelah waktu shalat maghrib yang disebut Mapag Jawadah. Pada upacara ini pengantin wanita datang menjemput pengantin pria di rumahnya dengan membawa seserahan. Kemudian dengan diiringi sanak keluarga dan berjalan dengan penerangan lampu petromak dan iringan rebana/ketimpringan pengantin pria dan wanita jalan kembali menuju rumah pengantin wanita dengan membawa balasan seserahan.

Buka Pintu

Setiba dirumah keluarga pengantin wanita, upacara buka pintu digelar. Upacara ini melambangkan diterimanya pengantin pria di keluarga pengantin wanita.

Ketika tiba di rumah keluarga pengantin wanita, pengantin pria diminta untuk menunggu diluar rumah dan pengantin wanita diminta untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian wakil dari keluarga pengantin pria marhaban dengan jenis lagu-lagu yang tidak memakai iringan rebana/ketimpringan, Biasanya jenis lagunya terdiri dari kolum, sondol, bayati, raubi dan sebagainya.

Huap Lingkung

Huap lingkung adalah upacara suapan makanan kepada kedua mempelai.

Setelah mempelai pria diterima oleh keluarga mempelai wanita, kedua mempelai di dudukan di depan rumah dengan menggunakan alas tikar. Kemudian para sesepuh satu persatu memberikan suapan nasi punar kepada kedua mempelai.

Ngeroncong

Upacara ngeroncong adalah dimana kedua mempelai menerima pemberian uang receh oleh seluruh keluarga dan undangan.

Pada upacara ini kedua mempelai duduk dikursi yang sudah dialasi oleh kain batik panjang yang baru. Upacara ini juga dilaksanakan di depan rumah. Kemudian secara bergantian seluruh keluarga serta undangan memberikan upacara selamat dan memasukan uang receh ketempat yang sudah disediakan.

PROSESI PERNIKAHAN ADAT NA GOK

1. Mangarisik

Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mnegadakan perminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

2. Marhori-hori Dinding/marhusip

Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

3. Marhata Sinamot

Pihak kerabat pria(dala jumlah yang terbatas) datang pada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor)

4. Pudun Saut

Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :

* Kerabat marga ibu(hula-hula)

* Kerabat marga ayah(dongan tubu)

* Anggota marga menantu(boru)

* Pengetuai(orang-orang tua)/pariban

Diakhir kegiatan Padun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu martumpol dan pamasu-masuon.

5. Martumpol (baca : martumppol)

* Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja.

* Tata cara Pertumpolan dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai denga ketentuan yang berlaku.

* Tindak lanjut Partumpolan adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting)

* Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut.

* Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah(pamasu-masuon)

6. Martonggo Raja atau Maria Raja

Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara/pesta acara yang bertujuan untuk :

* Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis

* Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara

* Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahutan atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direnacakan.

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagosan (PemberkatanPernikahan)

Pengesahan penikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja(pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja)

Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja.

Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon amupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk.

Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Mangalap parumaen (baca : parmaen)

8. Pesta Unjuk

Suatu acara perayana yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putrid. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar:

* Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut(daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.

* Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak

9. Mangihut di ampang (dialap jual)

Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan menngiringi jual berisi makana bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.

10. Ditaruhon Jual

Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru(upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa namaru tidak dikenal.

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daukat ni si Panganon)

§ Setibanya pengantin wanita beserta rombongan dirumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.

§ Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru.

12. Paulak Une

§ Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya. Maka paranak, minmum pengantin pria bersama istrinya pergi ke ruma mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hokum berkaitan dengan kesucian si wanita samapi ia masuk di dalam pernikahan)

§ Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru.

13. Manjahe

§ Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga(kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia kan dioajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)

§ Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga(yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru).

§ Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan(nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundar-mundar).

Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat Na Gok. Yang menjadi bahan pertanyaan sekarang adalah :

a. Apa kebaikan dan keburukan urutan pernikahan adat nag ok diatas?

b. Masih relevankah tata cara pernikahan adat nag ok diatas pada jaman sekarang ini?

ARTI ULOS BATAK

Secara harfiah , ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah Dari terpaan udara dingin. Menurut pemikiran leluhur Batak, ada 3 (tiga) sumber kehangatan :

1) Matahari

2) Api

3) Ulos

Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh malam hari, dan api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya.

Dalam pengertian adat Batak “mangulosi” (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih saying kepada penerima ulos. Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru.

Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dalam upacara adat yang bagaimana. Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang”non Batak” bisa penghormatan dan kasih sayang kepada penerima.

Ulos juga digunakan sebagai busana, misalnya untuk busana pengantin yang menggambarkan kekerabatan Dalihan Natolu, terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).

PROSESI PERNIKAHAN ADAT JAWA SOLO

Nontoni

Bagian pertama dari rangkaian prosesi pernikahan adalah Nontoni. Proses nontoni ini dilakukan oleh pihak keluarga pria. Tujuan dari nontoni adalah untuk mengetahui status gadis yang akan dijodohkan dengan anaknya, apakah masih legan (sendiri) atau telah memiliki pilihan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar jangan sampai terjadi benturan dengan pihak lain yang juga menghendaki si gadis menjadi menantunya. Bila dalam nontoni terdapat kecocokan dan juga mendapat ‘lampu hijau’ dari pihak gadis, tahap berikutnya akan dilaksanakan panembung.

Panembung

Panembung dapat diartikan sebagai melamar. Dalam melamar seorang gadis yang akan dijadikan jodoh, biasanya dilakukan sendiri oleh pihak pria disertai keluarga seperlunya. Tetapi bagian ini bisa juga diwakilkan kepada sesepuh atau orang yang dipercaya disertai beberapa orang teman sebagai saksi. Setelah pihak pria menyampaikan maksud kedatangannya, orangtua gadis tidak langsung menjawab boleh atau tidak putrinya diperistri. Untuk menjaga tata trapsila, jawaban yang disampaikan kepada keluarga laki-laki akan ditanyakan dahulu kepada sang putrid. Untuk itu pihak pria dimohon bersabar. Jawaban ini tentu saja dimaksudkan agat tidak mendahului kehendak yang akan menjalankan, yaitu sang gadis, juga agar taj menurunkan wibawa pihak keluarganya. Biasanya mereka akan meminta waktu untuk memberikan jawaban sekitar sepasar atau 5 hari.

Paningset

Apabila sang gadis bersedia dijodohkan dengan pria yang melamarnya, maka jawaban akan disampaikan kepada pihak keluarga pria, sekaligus memberikan perkiraan mengenai proses selanjutnya. Hal ini dimaksudkan agar kedua keluarga bisa menentukan hari baik untuk mewujudkan rencana pernikahan. Pada saat itu, orangtua pihak pria akan membuat ikatan pembicaraan lamaran dengan pasrah paningset (sarana pengikat perjodohan). Paningset diserahkan oleh pihak calon pengantin pria kepada pihak calon pengantin wanita paling lambat lima hari sebelum pernikahan. Namun belakangan, dengan alasan kepraktisan, acara srah-srahan paningset sering digabungkan bersamaan dengan upacara midodareni.

Ubarampe (perlengkapan) paningset yang diserahkan orang tua pihak pria keluarga perempuan berupa:

  • Paningset utama
  • Abon – abon paningset
  • Pengiring paningset
  • Sesaji Pelengkap paningset

Paningset utama


1) KAIN BATHIK TRUNTUM

Berupa latar hitam dengan tebaran bunga-bunga tanjung yang melambangkan bintang pada malam hari. Maknanya bahwa kehidupan manusia tidak akan lepas dari dua sisi kehidupan, seperti terang-gelap, suka-duka, kaya-miskin, dan seterusnya. Apabila sedan mendapat pepeteng (cobaan), kiranya segera mendapat pepadhang, bagai bintang dimalam hari.

2) CINCIN

Cincin dua buah berbentuk ‘lus seser’ yang tidak ada ujung pangkalnya. Diibaratkan cinta kasih kedua insan ini akan selalu mengikat tiada berakhir selamanya, selain hanya dalam kuasa Tuhan.

3) KASEMEKAN (BRA)

Kasemakan adalah penutup dada. Ubarampe (perangkat) ini menunjukkan makna sebagai penutup ‘teleng tedhane jabang bayi’. Yang artinya payudara. Inilah symbol perilaku kesusilaan, maksudnya jalan yang akan ditempuh dalam menjodohkan anak adalah dengan tata susila.

4) STAGEN
Stagen adalah kain tenunan selebar 12 cm dan panjangnya 4 hingga 4,5 m dari benang lawe besar, untuk mengikat saat mengenakan kain bathik. Makna stagen sebagai paningset dalam tradisi adalah mengikat kesepakatan yang telah dicapai dalam menjodohkan anak. Stagen mempunyai arti paningset yang juga diambil maknanya sebagai ‘bebakalaning sandhang’ (wujud benang lawe) atau cikal bahan sandang yang diharapkan dalam perkawinannya nanti semoga kuat dalam ‘nandhang saliring lelampahan’ )kuat dalam menjalani segala kondisi dalam berumah tangga).

5) KAIN SINDUR

Kain sindur adalah sejenis kain ‘rimong’ atau selendang yang berwarna merah dan putih. Warna merah melambangkan wanita dan putih melambangkan pria yang diharapkan bisa mneytau melanjutkan keturunan.


Abon – abon paningset


1) JERUK GULUNG ATAU JERUK BALI

Merupakan perlambang dalam berbesanan dan juga bagi pengantin. Maksudnya adalah mereka sudah siap mejalankan kewajiban sesuai dengan kedudukannya dan sudah dipikirkan secara mendalam.

2) NASI GOLONG

Nasi yang dibentuk menjadi bulatan. Yang diperlukan adalah sebanyak dua buah. Nasi golong menggambarkan tekad yang sudah ‘golong-gilik’ dalam menjodohkan anak dengan penuh rasa tanggung jawab.

3) TEBU WULUNG

Tebu wulung adalah tebu yang berwarna merah tua. Tebu itu

melambangkan sumber rasa manis. Hal ini menjadi harapan cita-cita bahwa di dalam kehidupan berkeluarga nanti akan selalu mendapatkan kehidupan yang serba manis.

4) PISANG AYU DAN SURUH AYU

Ubarampe ini berupa pisang raja setangkep. Pisang raja dipilih karena raja adalah seorang yang berkedudukan tinggi dan luhur. Harapan nya, pasangan ini kelak bisa mencapai kedudukan yang tinggi. Sedangkan makna suruh ayu adalah kelak kerukunan dan kebersamaan akan selalu ada dalam mengarungi kehidupan berkeluarga. Hal ini tercermin dari sifat daun suruh, yang meski permukaan atas dan bawahnya berbeda namun jika digigit rasanaya akan sama.


Pangiring paningset

Pengiring ini merupakan kelengkapan sari ubarampe yang baku. Bentuk dari pangiring paningset ini adalah hasil bumi maupun barang kebutuhan wanita.

Sesaji pelengkap paningset

1) Sepasang angsa atau ayam hidup, agar jodoh kedua mempelai abadi.

2) Dua buah kelapa gading atau kelapa cengkir (muda), sebagai perlambang ketajaman pikiran.

3) Dua batang tebu wulung, sebagai simbol keteguhan hati.

4) Bahan-bahan jamu, misalnya : jahe. Kunyit, kencur, empon-empon, sebagai simbol kesehatan bagi kedua mempelai.

PELAKSANAAN PERKAWINAN

Pelaksanaan pernikahan di Solo mempunyai tatanan yang memuat pokok-pokok tradisi Jawa sebagai berikut :

1. SOWAN LUHUR

Maksudnya adalah meminta doa restu dari para sesepuh dan piyagung serta melakukan ziarah kubur ke tempat leluhurnya.

2. WILUJENGAN

Merupakan ritual sebagai wujud permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya dalam melaksanakan hajat diberi keselamatan dan dijauhkan dari segala halangan. Dalam wilujengan ini memakai sarat berupa makanan dengan lauk-pauk, seperti ‘sekul wuduk’ dan ‘sekul golong’ beserta ingkung (ayam utuh). Dalam wilujengan ini semua sarat ubarampe enak dimakan oleh manusia.

3. PASANG TARUB

Merupakan tradisi membuat ‘bleketepe’ atau anyaman daun kelapa untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manton. Tatacara ini mengambil ‘wewarah’ atau ajaran Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram. Saat mempunyai hajat menikahkan anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Hal itu dilakukan dkarena rumah Ki Ageng uang kecil tidak dapat memuat semua tamu, sehingga tamu yang diluar diteduhi dengan ‘payon’ itu ruang yang dipergunakan untuk para tamu Agung yang luas dan dapat menampung seluruh tamu. Kemudian payon dari daun kelapa itu disebut ‘tarub’, berasal dari nama orang yang pertama membuatnya. Tatacara memasang tarub adalah bapak naik tangga sedangkan ibu memegangi tangga sambil membantu memberikan ‘bleketepe’ (anyaman daun kelapa). Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluarga.

4. PASANG TUWUHAN

Tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak yang dijodohkan dapat memperoleh keturunan, untuk melangsungkan sejarah keluarga.

Tuwuhan terdiri dari :

A. Pohon pisang raja yang buahnya sudah masuk

Maksud dipilih pisang yang sudah masak adalah diharapkan pasangan yang akan menikah telah mempunyai pemikiran dewasa atau telah masak. Sedangkan pisang raja mempunyai makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.

B. Tebu wulung

Tebu wulung berwarna merah tua sebagai gambaran tuk-ing memanis atau sumber manis. Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua. Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu bertindak dengan ‘kewicaksanaan’ atau kebijakan.

C. Cengkir gadhing

Merupakan symbol dari kandungan tempat si jabang bayi atau lambing keturunan.

D. Daun randu dari pari sewuli

Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan. Sehinggahal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.

E. Godhong apa-apa (bermacam-macam dedaunan)

Seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan agar terbebas dari segala halangan.

5. SIRAMAN DAN SADE DAWET (DODOL DAWET)

Peralatan yang dipaka untuk siraman adalah sekar manca warna yang dimasukkan ke dalam jembangan, kelapa yang dibelah untuk gayung mandi, serta jajan pasar, dan tumpeng robyong. Air yang dipergunakan dalam siraman ini diambil dari tujuh sumber air, atau air tempuran. Orang yang menyiram berjumlah 9 orang sesepuh termasuk ayah. Jumlah sembilan tersebut menurut budaya Keraton Surakarta untuk mengenang keluhuran Wali Sanga, yang bermakna manunggalnya Jawa dan Islam. Selain itu angka sembilan juga bermakna ‘babakan hawa sanga’ yang harus dikendalikan.

Pelaksanaan tradisi ini

Masing-masing sesepuh melaksanakan siraman sebanyak tiga kali dengan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa yang diakhiri siraman oleh ayah mempelai wanita. Setelah itu bapak mempelai wanita memecah klenthing atau kendhi, sambil berucap ‘ora mecah kendhi nanging mecah pamore anakku’.

Seusaii siraman calon pengantin wanita dibopong (digendong) oleh ayah ibu menuju kamar pengantin. Selanjutnya sang Ayah menggunting tigas rikmo (sebagian rambut di tengkuk) calon pengantin wanita. Potongan rambut tersebut diberikan kepada sang ibu untuk disimpan ke dalam cepuk (tempat perhiasan), lalu ditanam di halaman rumah. Upacara ini bermakna membuang hal-hal kotor dari calon pengantin wanita. Kemudian rambut calon pengantin wanita. Kemudian rambut calon pengantin wanita dikeringkan sambil diharumi asap ratus, untuk selanjutnya ‘dihalubi-halubi’ atau dibuat cengkorong paes. Selanjutnya rambut dirias dengan ukel konde tanpa perhiasan, dan tanpa bunga.

Dodol Dawet

Pada saat calon pengantin dibuat cengkorong paes itu, kedua orangtua menjalankan tatacara ‘dodol dawet’ (menjual dawet). Disamping dawet itu sebagai hidangan, juga diambil makna dari cendol yang berbentuk bundar merupakan lambing kebulatan kehendak orangtua untuk menjodohkan anak.

Bagi orang yang akan membeli dawet tersebut harus membayar dengan ‘kreweng’ (pecahan genting) bukan dengan uang. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi. Yang melayani pembeli adalah ibu, sedangkan yang menerima pembayaran adalah bapak. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri , harus saling membantu.

6. SENGKERAN

Setelah calon pengantin wanita ‘dihaluh-halubi’ atau dibuat cengkorong paes lalu ‘disengker’ atau dipingit. Artinya tidak boleh keluar dari halaman rumah.

Hal ini untuk menjaga keselamatannya. Pemingitan ini dulu dilakukan selama seminggu, atau minimal 3 hari. Yang mana dalam masa ini, calon pengantin putri setiap malam dilulur dan mendapat banyak petuah mengenai bagaimana menjadi seorang istri dan ibu dalam menjalani kehidupan dan mendampingi suami, serta mengatur rumah tangga.

7. MIDODARENI ATAU MAJEMUKAN

Malam menjelang dilaksanakan ijab dan panggih disebur malam midodareni. Midodareni berasal dari kata widodari. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mepercantik pengantin wanita.

Prosesi yang dilaksanakan pada malam midodareni

A. Jonggolan

Datangnya calon pengantin ke tempat calon mertua. ‘Njonggol’ diartikan sebagai menampakkan diri. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan sehat dan selamat, dan hatinya telah mantap untuk menikahi putri mereka. Selama berada di rumah calon pengantin wanita, calon pengantin pria menunggu di beranda dan hanya disuguhi air putih.

B. Tantingan

Kedua orangtua mendatangi calon pengantin wanita di dalam kamar, menanyakan kemantapan hatinya untuk berumah tangga. Maka calon pengantin wanita akan menyatakan ia ikhlas menyerahkan sepenuhnya kepada orangtua, tetapi mengajukan permintaan kepada sang ayah untuk mencarikan ‘kembar mayang’ sebagai isyarat perkawinan.

C. Turunnya Kembar Mayang

Turunnya kembar mayang merupakan saat sepasang kembar mayang dibuat. Kembar mayang ini milik para dewa yang menjadi persyaratan, yaitu sebagai sarana calon pengantin perempuan berumah tangga. Dalam kepercayaan Jawa, kembar mayang hanya dipinjam dari dewa, sehingga apabila sudah selesai dikembalikan lagi ke bumi atau dilabuh melalui air. Dua kembar mayang tersebut dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Dewandaru mempunyai arti wahyu pengayoman. Maknanya adalah agar pengantin pria dapat memberikan pengayoman lahir dan batin kepada keluarganya. Sedangkan Kalpandaru, berasal dari kata kalpa yang artinya langgeng dan daru yang berarti wahyu. Maksudnya adalah wahyu kelanggengan, yaitu agar kehidupan rumah tangga dapat abadi selamanya.

D. Wilujengan Majemukan

Wilujengan Majemukan adalah silahturahmi antara keluarga calon pengantin pria dan wanita yang bermakna kerelaan kedua pihak untuk saling berbesanan. Selanjutnya ibu calon pengantin wanita menyerahkan angsul-angsul atau oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang kepada ibu calon pengantin pria. Sesaat sebelum rombongan pulang, orang tua calon pengantin wanita memberikan kepada calon pengantin pria.

8. IJAB PANIKAH

Pelaksanaan ijab panikah ini mengacu pada agama yang dianut oleh pengantin. Dalam tata cara Keraton, saat ijab panikah dilaksanakan oleh penghulu, tempat duduk penghulu maupun mempelai diatur sebagai berikut :

· Pengantin laki-laki menghadap barat

· Naib di sebelah barat menghadap timur

· Wali menghadap ke selatan, dan para saksi bisa menyesuaikan

RANGKAIAN UPACARA PANGGIH

ACARA & MAKNA

TATA CARA

Balangan gantal

Mengandung arti suatu peristiwa yang sekilas

namun tidak dapat diulangi lagi.

Pengantin pria melempar gantal ‘gondhang tutur’ dengan sasaran dada pengantin wanita. Sedangkan penganti

wanita melempar gantal ‘gondhang kasih’ yang dituju lutut

pengantin pria. Maknaya, pengantin pria mengambil

jantung hati atau cinta kekasihnya. Sebaliknya wanita menunjukkan baktinya kepada guru laki atau sang suami.

Ngidak tigan (menginjak telur)

Mengandung makna bahwa yang dijodohkan bisa mempunyai keturunan. Tigan atau telur melambangkan manunggalnya pria dan wanita seperti pecahnya telur berupa putih dan merah

Putih menggambarkan pria dan merah menggambarkan wanita, dan disebut ‘ngidak widji dadi’.

Dengan kaki telanjang pengantin pria menginjak sebutir

telur ayam mentah yang diletakkan di atas nampan sampai

bagian merah dan putihnya hancur dan mejadi satu.

Selanjutnya pengantin wanita membasuh kaki pengantin

pria sebagai perlambang baktinya kepada suami.

Dalam tradisi kuno, sesepuh memberikan syarat

mencelupkan tangannya ke dalam bokor air kembang, diusapkan pada tengkuk kedua pengantin. Hal ini

mempunyai makna memperkenalkan pengantin pria dan

wanita yang disaksikan oleh dewa air yang disebut Dewi

Jalika.

Sinduran / Disingepi sindur

Maksudnya kedua orangtua memberikan ‘panjurung donga pangestu’ kepada kedua anaknya.

Pundak kedua pengantin ditutup dengan kain sindur oleh

ibu pengantin perempuan, berjalan perlahan menuju krobongan diikuti bapak dari belakang. Kain sindur yang berwarna putih dan merah melambangkan asal-usul

manusia. Namun ada pelaksanaan disingepi sindur dimana

ibu berjalan di belakang pengantin dan bapak di depannya. Dengan cara itu disebut nggendong anak, yang artinya kehidupan rumah tangga anak ditanggung orangtuanya.

Bobot timbang

Mengandung makna bahwa antara anak sendiri dengan anak menantu bagi orangtua tidak ada bedanya.

Ayah pengantin wanita duduk di depan petanen diikuti pengantin pria duduk dipangku di lutut kanan dan

pengantin wanita di lutut kiri. Pada saat itu ibu pengantin

maju sambil menanyakan ‘abot endi pakne’ (berat yang

mana Pak?) Yang kemudian sang Bapak ‘pada wae’ (sama beratnya).

Ngombe rujak degan

Bermakna membersihkan dan menyegarkan tubuh serta jiwa.

Merupakan tradisi minum rujak satu gelas untu satu

keluarga. Rujak degan yang ada di dalam gelas diminum

oleh bapak diteruskan diminum ibu dan diberikan kepada kedua pengantin.

Kacar kucur

Merupakan symbol tanggung jawab pengantin pria

untuk menafkahi keluarganya.

Pengantin pria menuangkan ubarampe ke pangkuan

pengantin wanita yang diberi alas kain sindur. Saat itu mengucapkan ‘kacar kucur rukune sedulur kacang kawak, delekawak, rakete kaya sanak’.

Dulangan

Tata cara ini melambangkan cumbana atau saling bercumbu rayu dan saling memadu kasih.

Pengantin pria menyuapkan nasi kepada pengantin wanita, kemudian sebaliknya pengantin wanita menyuapi

pengantin pria.

Ngabekten

Ngabekten merupakan prosesi untuk menunjukkan

bakti kedua pengantin kepada orang tuanya.

Pengantin wanita sungkem kepada pengantin pria, lalu

kedua pengantin sungkem kepada kedua orangtua sebagai tanda bakti.